HERI KUSNADI ( 081919413345 )

Di mohon tinggalkan pesan dan komentar.

HERI KUSNADI ( 081919413345 )

Di mohon tinggalkan pesan dan komentar.

HERI KUSNADI ( 081919413345 )

Di mohon tinggalkan pesan dan komentar.

HERI KUSNADI ( 081919413345 )

Di mohon tinggalkan pesan dan komentar.


KLIK BISNIS USTAD YUSUF MANSUR

Rabu, 19 Oktober 2011

KONSEP DASAR SASTRA

Sastra merupakan salah satu hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Keberadaan sastra dalam kehidupan manusia telah menyedot perhatian dari para penikmat seni. Sebagai salah satu seni, sastra memiliki konsep dasar yang menjadikan sastra berbeda dengan seni lainnya. Ada empat konsep yang akan dibahas dalam perkuliahan ini, yaitu: (1) kaidah sastra; (2) ciri-ciri sastra; (3) wilayah studi sastra; dan (4) wilayah kesusastraan. Keempat konsep tersebut adalah sebagai berikut ini.

A. Kaidah Sastra
Waluyo, (1994: 56-58) mengatakan bahwa kaidah sastra atau daya tarik sastra terdapat pada unsur-unsur karya sastra tersebut. Pada karya cerita fiksi, daya tariknya terletak pada unsur ceritanya yakni cerita atau kisah dari tokoh-tokoh yang diceritakan sepanjang cerita yang dimaksud. Selain itu, faktor bahasa juga memegang peranan penting dalam menciptakan daya pikat. Kemudian gayanya dan hal-hal yang khas yang dapat menyebabkan karya itu memikat pembaca. Khusus pada cerita fiksi, ada empat hal lagi yang membantu menciptakan daya tarik suatu cerita rekaan, yaitu: (1) kreativitas; (2) tegangan (suspense); (3) konflik; dan (4) jarak estetika. Uraian keempatnya sebagaimana dikutip dari Waluyo (1994:58-60) berikut ini.
1) Kreativitas
Tanpa kreativitas, karya sastra yang diciptakan pengarang tidak mungkin menempati perhatian pembaca. Kreativitas di¬tandai dengan adanya penemuan baru dalam proses penceritaan. Pengarang-pengarang yang lazim disebut "avantgarde" atau pelo¬por, biasanya menunjukkan daya kreativitas yang menonjol yang membedakan karya rekaannya dari karya yang mendahului.
Dalam sejarah sastra Indonesia, kita mengenal para pemba¬haru sastra Indonesia yang menunjukkan daya kreativitas mereka seperti Marah Rusli (Siti Nurbaya), Abdul Muis (Salah Asuhan), Sutan Takdir Alisyahbana (Layar Terkembang), Armijn Pane (Belenggu), Achdiat Kartamiharja (Atheis), Mochtar Lubis (Jalan Tak Ada Ujung), dan sebagainya.
Penemuan-penemuan hal yang baru itu mungkin melalui peniruan terhadap karya yang sudah ada dengan jalan memper¬baharui, namun mungkin juga melalui pencarian secara modern harus banyak bersusah payah untuk menemu¬kan sesuatu yang baru, untuk tidak hanya mengulang-ulang apa yang sudah diucapkan/ diungkapkan oleh pengarang lain.
2) Tegangan ( Suspense)
Di depan telah dibicarakan tentang tegangan atau suspense. Tidak mungkin ada daya tarik tanpa menciptakan tegangan dalam sebuah cerita. Jalinan cerita yang menimbulkan rasa ingin tahu yang besar dari pembaca merupakan tegangan cerita itu. Tegangan bermula dari ketidakpastian cerita yang berlanjut, yang mendebarkan bagi pembaca /pendengar cerita. Tegangan meno¬pang keingintahuan pembaca akan kelanjutan cerita. Tegangan diakibatkan oleh kemahiran pencerita di dalam merangkai kisah seperti yang sudah dikemukakan di depan.
Tanpa tegangan, cerita tidak memikat. penulis/pencerita yang mahir akan memelihara tegangan itu, sehingga mampu mempermainkan hasrat ingin tahu pembaca. Bahkan kadang¬kadang segenap pikiran dan perasaan pembaca terkonsentrasikan ke dalam cerita itu, karena kuatnya tegangan yang dirangkai oleh sang penulis. Dalam menjawab hasrat ingin tahu pembaca/ pendengar, penulis/pencerita memberikan jawaban-jawaban yang mengejutkan. Tinggi rendahnya kadar kejutan itu bergantung dari kecakapan dan kreativitas pengarang. Penga¬rang-pengarang cerita rekaan besar seperti Agata Christie, Sherlock Holmes, Pramudya Ananta Toer, dan sebagainya mampu mencip¬takan jawaban-jawaban cerita yang penuh kejutan sehingga cerita¬nya memiliki suspense yang memikat.
3) Konflik
Membicarakan daya tarik cerita rekaan harus menghu¬bungkannya dengan konflik yang dibangun. Jika konflik itu tidak wajar dan tidak kuat, maka jalan ceritanya akan datar dan tidak menimbulkan daya tarik. Konflik yang wajar artinya konflik yang manusiawi, yang mungkin terjadi dalam kehidupan ini dan antara kedua orang yang mengalami konflik itu mempunyai posisi yang kurang lebih seimbang. Jika posisinya sudah nampak tidak seimbang, maka konflik menjadi tidak wajar karena pem¬baca segera akan menebak kelanjutan jalan ceritanya.
Konflik itu juga harus kuat. Dalam kisah kehidupan se¬hari-hari, konflik yang kuat biasanya berkaitan dengan problem manusia yang penting dan melibatkan berbagai aspek kehidupan. Konflik itu bersifat multidimensional yang tidak mudah menye¬lesaikannya. Roman Salah Asuhan dan Belenggu memiliki kon¬flik yang cukup kuat karena problem yang menyebabkan konflik itu adalah problem hakiki dalam kehidupan manusia. Konflik itu juga sukar menyelesaikannya karena tidak mungkin adanya satu jawaban saja. Hal ini berbeda dengan konflik yang dibangun me¬lalui cerita wayang. Karena tokohnya hitam putih, maka konflik dalam cerita wayang segera dapat ditebak jawabannya.
Dalam novel-novel mutakhir, jalinan konflik itu cukup bervariasi. Karena konflik menjadi dasar cerita, maka perhatian pengarang kepada konflik ini kiranya memungkinkan mereka akan lebih mampu menjalin cerita yang memikat.

4) Jarak Estetika
Daya pikat sebuah cerita fiksi juga muncul akibat penga¬rang memiliki jarak estetika yang cukup pekat dengan cerita dan tokoh-tokoh cerita itu. Seolah-olah pengarang menguasai benar-benar dunia dari tokoh itu, sehingga pengarang benar-benar ikut terlibat dalam diri tokoh dan ceritanya. Jika keadaan ini dapat dilakukan oleh pengarang, pembaca akan lebih yakin akan hadir¬nya cerita dan tokoh itu, seakan-akan cerita fiksi itu bukan hanya tiruan dari kenyataan itu, namun adalah kenyataan sendiri yang mengejawantah.
Pengarang akan menciptakan jarak estetis yang cukup rapat sehingga tokoh dan peristiwa benar-benar hidup. Seperti halnya dalam cerita Mushashi, pembaca akan merasa ikut terlibat dalam peristiwa-peristiwa karena kekuatan cerita itu. Ketika pada adegan terakhir Mushashi mengalahkan Sasaki Kojiro, pembaca mungkin akan merasa menyaksikan dua ksatria bertempur di tepi pantai Parangtritis, di siang hari ketika matahari terik, dan tiba¬-tiba Mushashi melompat menghantam kepala Koliro dengan pedang. Ini dapat terjadi karena kekuatan cerita yang pengarang ciptakan dengan membuat jarak estetis yang cukup rapat sehingga tokoh dan peristiwa benar-benar hidup.

B. Ciri-ciri sastra
Ciri sastra yang akan kita pahamkan di sini adalah ciri-ciri sastra yang pernah dikemukakan oleh para ahli sastra atau para praktisi sastra. Wellek & Warren (1989:22) menyebutkan ciri-ciri sastra sebagai berikut: (1) menimbulkan efek yang mengasingkan; (2) fiksionalitas; (3) ciptaan; (4) tujuan yang tidak praktis; (5) pengolahan dan penyampaian melalui media bahasa; (6) imajinasi; (7) bermakna lebih; (8) berlabel sastra; dan (9) merupakan konvensi masyarakat sebagai ciri-ciri sastra. Selain itu, Lexemburg, (1984:9) menambahkan beberapa ciri lagi yaitu: (1) bukan imitasi; (2) otonom; (3) koherensi; (4) sintesa; dan (5) mengungkapkan yang tak terungkapkan sebagai ciri sastra yang lainnya. Dengan demikian sudah teridentifikasi empat belas ciri sastra. Tentu pendapat lain dapat pula ditambahkan, seperti pendapat yang dipegang pada zaman Romantik, bahwa sastra itu merupakan luapan emosi spontan, sedangkan menurut kaum Formalis, sastra selain menunjukkan cirinya pada aspek sintaktik, juga pada grafiknya.
Untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut tentang maksud ciri-ciri sastra di atas, Anda sebaiknya membaca buku sumber yang telah disebutkan di atas, yaitu buku Wellek & Warren dan buku Lexemburg.

C. Wilayah Studi Sastra
Yang merupakan tiga cabang studi sastra itu adalah teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra ( Wellek & Warren dalam Pradopo, 2002: 34-35). Pegertian ketiga cabang studi sastra itu sebagaimana dijelaskan Paradopo (2002) dan Fananie ( 2000 ) berikut ini.
1) Teori sastra adalah bidang studi sastra yang berhubungan dengan teori kesusastraan, seperti studi tentang apakah kesusastraan itu, bagaimana unsur-unsur atau lapis-lapis normanya; studi tentang jenis sastra (genre ), yaitu apakah jenis sastra dan masalah umum yang berhubungan dengan jenis sastra, kemungkinan dan kriteria untuk membedakan jenis sastra, dan sebagainya ( Pradopo, 2002:34). Perihal unsur-unsur atau lapis-lapis norma karya sastra dijelaskan lebih lanjut oleh Fananie yakni menyangkut aspek-aspek dasar dalam teks sastra. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek intrinsik dan ekstrinsik sastra. Teori intrinsik sastra berhubungan erat dengan bahasa sebagai sistem, sedang konvensi ekstrinsik berkaitan dengan aspek-aspek yang melatarbelakangi penciptaan sastra. Aspek tersebut meliputi aliran, unsur-unsur budaya, filsafat, politik, agama, psokologi, dan sebagainya. (Fananie, 2000:17-18).
2) Sejarah sastra adalah studi sastra yang membicarakan lahirnya kesusastraan Indonesia modern, sejarah sastra membicarakan sejarah jenis sastra, membicarakan periode-periode sastra, dan sebagainya; pokoknya semua pembicaraan yang berhubungan dengan kesejarahan sastra, baik pembicaraan jenis, bentuk, pikiran-pikiran, gaya-gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra dari periode ke periode ( Pradopo,2002: 34).
Dikemukakan oleh Fananie (2000:19-20) bahwa berdasarkan aspek kajiannya, sejarah sastra dibedakan men¬jadi:
a. Sejarah genre, yaitu sejarah sastra yang mengkaji perkembang¬an karya-karya sastra seperti puisi dan prosa yang meliputi cerpen, novel, drama, atau sub genre seperti pantun, syair, talibun, dan sebagainya. Kajian tersebut dititikberatkan pada proses kelahirannya, perkembangannya, dan pengaruh-penga¬ruh yang menyertainya.
b. Sejarah sastra secara kronologis, yaitu sejarah sastra yang mengkaji karya-karya sastra berdasarkan periodesasi atau ba-bakan waktu tertentu. Di Indonesia penulisan sejarah sastra secara kronologis, misalnya klasifikasi periodesasi tahun 20-an, yang melahirkan Angkatan Balai Pustaka, tahun 30-an yang melahirkan Angkatan Pujangga Baru, tahun 42, sastra Jepang, tahun 45, Angkatan 45, tahun 60-an yang melahirkan Angkatan 66, dan sastra mutakhir atau kontemporer.
c. Sejarah sastra komparatif, yaitu sejarah sastra yang mengkaji dan membandingkan beberapa karya sastra pada masa lalu, pertengahan, dan masa kini. Bandingan tersebut bisa meliputi karya-karya sastra antar negara seperti sastra Eropa dengan sastra Indonesia, Melayu, dan sebagainya. Aspek-aspek yang dibandingkan dapat meliputi beberapa hal seperti yang dike¬mukakan oleh Rene Wellek, yaitu:
1) Comparative literature: The study of oral literature expecially of falle talk themes and then imigration, of how and other they have entered higher artistic literature. (Pengkajian sastra lisan khususnya mengenai terra-terra cerita rakyat dan ceritakepindahannya, bagaimana dan kapan sastra-sastra rakyat tersebut berkembang / masuk pada bagian yang lebih tinggi pada keindahan sastra itu yang bersifat artistik).
2) The study of relationship betwen two or more literature. (Hu¬bungan kajian antara dua atau beberapa karya sastra).
3) The study of literature in its totality (world literature or universal literature). (Kajian sastra secara keseluruhan).
Pembagian di atas hanyalah merupakan pembagian global, ka¬rena secara rinci, kajian komparatifnya dapat berupa aspek baha¬sanya, estetikanya, latar belakangnya, gaya, pengaruh, atau se¬mua aspek yang menyertai karya tersebut.
3) Kritik Sastra ialah studi sastra yang berusaha menyelidiki karya sastra dengan langsung, menganalisis, menginterpretasi, memberi komentar, dan memberikan penilaian (Pradopo,2002:34-35). Dikatakan Fananie, Kritik sastra itu semacam pertimbangan untuk menunjukkan kekuatan atau kebagusan dan juga kekurangan yang terdapat dalam karya sastra. Karena itu hasil dari kritik sastra biasanya mencakup dua hal , yaitu baik dan buruk (goodness atau dislikeness) (2000:20).
Untuk memperoleh gambaran yang jelas, maka kritik selalu berkaitan dengan judgement, valuation, proper understanding and recornition, statement giving valuation, and rise in value (2000:20).

D. Wilayah Kesusastraan
Kesusastraan dibagi menjadi tiga wilayah. Tiga wilayah kesusastraan itu adalah: (1) wilayah penciptaan sastra; (2) wilayah penikmatan sastra; dan (3) wilayah penelitian sastra. Dikemukakan oleh Mursal Esten (1978:13-14), bahwa ketiga wilayah dalam kehidupan kesusastraan itu saling berhubungan dan saling membantu. Maksud dari ketiga wilayah tersebut dijelaskannya sebagai berikut ini.
“Wilayah penciptaan kesusastraan ialah wilayah para sastrawan, yang diisi dengan ciptaan-ciptaan yang baik dan bermutu. Persoalan mereka ialah bagaimana menciptakan ciptasastra yang baik dan bermutu.
Wilayah penelitian ialah wilayah para ahli dan para kritikus. Mereka berusaha menjelaskan, menafsirkan dan memberikan penilaian terhadap ciptasastra-ciptasastra. Tentu saja mereka harus memperlengkapi diri mereka dengan segala pengetahuan yang mungkin diperlukan untuk memahami ciptasastra-ciptasastra yang mereka hadapi. Wilayah para penikmat adalah wilayah para pembaca. Wilayah ini tidak kurang pentingnya, karena untuk merekalah sesungguhnya ciptasastra-ciptasastra ditulis oleh para pengarang”.

E. Materi Diskusi dan Tugas
1) Konsep sastra terbagi atas empat bagian, jelaskanlah keempat konsep sastra tersebut!
2) Diskusikan sebuah novel, kemudian tentukan bagian-bagian yang relevan dengan kaidah-kaidah sastra!
3) Salah satu ciri sastra menurut Wellek dan Warren adalah konvensi masyarakat. Jelaskanlah ciri sastra tersebut! Bagaimana kaitannya dengan kebebasan berekspresi?
4) Diskusikanlah keterkaitan antara wilayah penciptaan, wilayah penikmatan, dan wilayah penelitian sastra, kemudian jelaskan hasil diskusi yang telah dilakukan!
5) Salah satu wilayah studi sastra adalah sejarah sastra. Jelaskan kaitannya dengan teori sastra dan kritik sastra!


Kamis, 27 Januari 2011

PROPOSAL SKRIPSI


Education has a vital role for the survival of human life,, because without education people will be difficult to develop and even backward. Thus education should really be directed to produce quality human and able to compete. In addition, education is also an effort to improve the quality of Human Resources (HR), physical, mental and spiritual. Various efforts have been made in education, including curriculum development and improvement be gradual, consistent and tailored to the development and advancement of science and technology. Educational process focused on improving the mastery of knowledge, skills abilities, the development of attitudes and values concerning the establishment and development of self-learners, so the purpose of education is not only to develop knowledge of children, but also attitudes and socio-emotional personality in addition to the skills other. Education in schools can not be separated from the learning process and interaction between teachers and students.
Learning is a two-way communication process, the teaching conducted by the teacher as the educator, whereas the study conducted by students or teachers should be able to adapt the teaching materials for pupils with learning methods to achieve maximum academic achievement.
Overall reflection of the learning demonstrated by the achievement of learning achieved by students. But the reality in accordance with the purpose of teaching and learning is not easy. In the normal teaching and learning in schools often encountered some problems. Many students who have found low values in some subjects, especially English language learning. Teachers are key in improving the quality of education and they are in the central point of any education reform effort aimed at qualitative change. Teachers are responsible for managing, directing and creating an atmosphere that encourages students to carry out activities in class. To support these tasks, required the selection of appropriate strategies and in accordance with the material or concepts that will be taught. Teaching model used by teachers also will affect the way students learn where every student has a different way of learning with other students.
English lessons at school today plays an important role by placing it as one of the school prerequisite courses. In recent years, many students are not graduating because of the english language that has not reached the standard value of graduation requirements so that English is still regarded as a scourge for them. Actual values used in the passing requirement is not a good value and English learning achievement to be proud of, but all must be diametrically opposed on the level of the student's ability to absorb and understand the English language which is still low. Many students who have not mastered the concept of the material being taught. This is caused by the use of learning strategies that are less precise in delivering course material.
Currently there are many learning methods developed for the purpose of gaining knowledge construction among others, cooperative learning, contextual learning and problem based learning. However, in practice, development of teaching methods above have not been fully utilized by the teacher with the excuse of time constraints. Once the researchers conducted observations english learning process conducted in SMA found problems as follows:
1)      Students are less able to use formulas in problem solving,
2)      Students tend to be less active in the learning process,
3)      Students tend to depend on teachers and friends.
The problems are caused by the learning method developed by English teachers in teaching and learning activities are conventional learning methods that rely more on lectures, in which teachers focused more on efforts to transfer knowledge into the head of the student without notice that when students enter the classroom, students stock has the ability and knowledge that is not the same. Students are only placed as objects, so that students become passive and sank into a state of learning the optimal stimulating learning activities. Passive attitude of students in the learning process and learning system that monotony has impacted the academic achievement of English language decreases.
To overcome the problems mentioned above, then the teacher needs to implement an appropriate learning strategies that can make learning english involves more active role of students.
Learning strategies that can be used such as Index Card Match. The Index Card Match learning strategies are emphasized for students to understand the material by working together in pairs. This strategy is quite fun, especially used to repeat material that has been taught previously. However,new material can still be taught with this strategy with a record of students were given the task of studying the topic to be taught first.
In addition determined by the learning strategy, the success of teaching and learning process is also determined by the motivation to study. English teachers are expected to give impetus to learn the students, so students feel interested and easy to understand the material provided. Every act, including deeds to learn is driven by something or some motive. The motive or impulse is also called a power residing in the individual self or students who encouraged him to do to achieve a goal.
Based on the description above, to observe the effect of learning strategies in learning English, the researchers conducted research on "the implementation of index cards match strategy in SMA .

RIVIEW TEXT


REVIEW TEXT
A review text is a flexible genre which may vary according to the nature of the creative work being worked on, the intended audience, and the aspects of the work considered worth commenting on.
The  purpose of a review is to analyse and evaluate some creative work, and to inform people about its strengths and weaknesses.
The basic structure of a review consist of four part :
1.    Title
Briefly identifies the subject of the review in some interesting way, and generally is linked to the reviewer’s name.
2.    Identification of the work
Identifies :
the name of creative work which  is the subject of the review .
-         What kind of work it is (movie, novel, magazine etc…)
-         Its author(s), Publisher or Producer, and date of production.
Not all these details are necessary.
3.    Evaluation of the work
The reviewer describes particular aspect of the work, and offers their opinion regarding them, their quality, effectiveness, and so forth.
4.    Conclusions/Recommendations
The reviewer summarises their assessment  of the value of the work, and makes recommendations regarding how other s should regard the work.










RIVIEW TEXT
Title

“Star Wars” is universally loved. Hamil’s Sky walker is awuss, the plot wanders all over, and only Harrison ford gives it any real fire, but it means more to many people than the national anthem or Shakespeare.

Identification
Of the work
This film is reviewed by matt ford.
Genre                            : Science Fiction
Writer                           : George Lucas
Date of Production     : 1997
Stars                             : Mark Hamill, Carrie fisher, Harrison ford, Alec Guinnes, Peter Cushing, Kenny Baker, Anthony Daniels, Peter Maywey, James Earl Jones, David Prowse.
Length                          : 120 Minutes

Evalution
of the work
As you know “Star Wars” gives the viewer a whole universe with its own history, mythology,”realistic” spacecraft and faith in the almost courtly value of honour in a galaxy gone mad.
The special effects are slick and it’s easy to find your self lined into a world you want to believe in, although none of the new 1997 special edition re-release scenes contribute much to the narrative, they do add extra colour and develop the spectacle.

Conclusion

Despite being over-hyped, over-marketed, and fairly flawed, “star wars” remain one of the most memorable and glorious fantasies ever made. So, you are not so busy that you can watch this movie.





 

Selasa, 07 Desember 2010

laporan ppl


LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN INDIVIDU


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Praktek pengalaman lapangan (PPL)
Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Wilayah Jambi di Sungai Penuh

DISUSUN OLEH :
NAMA                        : HERI KUSNADI
NPM               : 0710253745013
JURUSAN       : S1 BAHASA INGGRIS
LOKASI PPL    : SMA NEGERI 2 SUNGAI PENUH


Sungai Penuh,           Desember 2010
Dosen Pembimbing                                                             Guru Pamong


Drs. SAIFUL  ASWIR                                                               ERWIN S.Pd
NIP.                                                                             NIP. 19620908 198803 1 006
Mengetahui
Kepala Sekolah SMA N 2 Sungai Penuh

Drs. ASHARI, MM
NIP. 19601008 198403 1 005

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, alhamdullillah laporan observasi ini dapat penulis selesaikan. Atas berkah dan rahmatNya pula penulis dapat menyelesaikan praktek pengalaman lapangan (PPL) di SMAN 2 sungai penuh. Shalawat serta salam penulis berikan untuk nabi muhammad SAW, yang telah memberikan petunjuk kepada umat manusia untuk menempuh jalan yang diridhoi Allah SWT.
Adapun tujuan observasi di SMA Negeri 2 Sungai Penuh adalah untuk lebih mengetahui dan mengenal lingkungan sekolah baik dari segi belajar mengajar, sarana prasarana maupun hal lain yang terkait dengan SMA Negeri 2 Sungai Penuh, sehingga Penulis lebih mudah berinteraksi dan berkomunikasi selama kegiatan praktek pengalaman lapangan (PPL) berlangsung.
Ucapan terima kasih Penulis sampaikan kepada guru pamong yang telah banyak membantu penulis dalam pembuatan laporan observasi ini, serta segala pihak yang telah turut membantu baik moril maupun materil, semoga bantuan, dorongan dan petunjuk serta bimbingan yang telah diberikan menjadi amal ibadah dan mendapat balasan yang baik pula dari Allah SWT.

Sungai penuh, 20  desember 2010
Penulis


HERI KUSNADI


DAFTAR ISI

LEMBARAN PENGESAHAN…………………………………………………1
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….2
DAFTAR ISI………………………………………………………………………..3
BAB I PENDAHULUAN
A.           1.1 Analisis  Situasi…………………………………………….....4
B.           1.2 Perumusan  Program  Dan  Rancangan  Kegiatan Program Ppl….5
           
BAB II ISI
A.        2.1 Perencanaan………………………………………….6
        B.       2.2 Pelaksanaan ………………………………...........6
        C.      2.3 Analisis Hasil ……………………………...........7
           
BAB III PENUTUP
A.        3.1 Kesimpulan………………………………………………………..9
B.         3.2 saran…………………………..……………………….………………9
           




BAB I
PENDAHULUAN

Pemantapan Praktek Lapangan (PPL) dalam program S1-Pendidikan Bahasa Inggris merupakan salah satu upaya atau program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memantapkan potensinya sebagai calon guru sekolah menengah atas yang professional, hal ini dilaksanakan dalam rangka menyiapkan dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas saat menempatkan diri sebagai seorang guru.
            Kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) mempunyai arti yang sangat penting bagi mahasiswa karna dapat meningkatkan kerjasama antar mahasiswa sehingga saling memberi dan menerima pengalaman belajar dalam memecahkan hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
A.     Analisis  Situasi
Kegiatan PPL tahun 2010 diselenggarakan mulai tanggal 20 oktober dan berakhir tanggal 20 desember  2010.  Lokasi pelaksanaan kegiatan  PPL STKIP tahun 2010 yang di Percayakan kepada Penulis adalah SMA Negeri 2 Sungai Penuh.
SMA Negeri 2 Sungai Penuh terletak di JL.RE. Marta Dinata berjarak sekitar 2km dari pusat kota sungai penuh, letaknya sangat strategis karena terletak di pinggir jalan menuju arah Sungai Penuh dari arah desa Kumun, dekat dengan Kantor Kapolres Sungai Penuh. SMA Negeri 2 Sungai Penuh ini, berdiri pada tahun 1978 diatas tanah petak persegi empat.


Berikut beberapa data mengenai SMA Negeri 2 Sungai Penuh, yaitu :
1.      Kondisi Fisik Sekolah
. Didalam gedung terdapat beberapa fasilitas yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Fasilitas yang dimiliki oleh SMA Negeri 2 Sungai Penuh dikatakan sudah baik dan layak untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Adapun fasilitas atau sarana yang ada di SMA Negeri 2 Sungai Penuh adalah sebagai berikut :
Secara umun gedung SMA Negeri 2 Sungai Penuh terdiri dari
a.       Ruang Kepala Sekolah
Ruang Kepala Sekolah Terletak di antara Ruang TU dan Ruang wakil Kepala Sekolah.
b.      Ruang Wakil Kepala Sekolah
Ruang Wakil Kepala Sekolah Terletak Di Sebelah Ruang Kepala Sekolah dan berdampingan dengan lorong gerbang masuk sekolah
c.       Ruang Guru
Ruang guru terletak di sudut pojok sekolah dan di antara kelas XII ips 1 dan Kelas Xb
d.      Ruang kelas
Sekolah ini memiliki sembilan belas ruang kelas yang masing-masing terdiri dari kelas sepuluh  (7 kelas), kelas sebelas (6 kelas) , kelas dua belas (6 kelas). Yang rata-rata jumlah siswa perkelas sekitar 35 siswa.
e.       Perpustakaan
Perpustakaan SMA Negeri 2 Sungai Penuh Terletak di samping kanan depan sekolah, yang mempunyai koleksi buku yang bisa dikatakan cukup dan mempunyai buku yang bervariasi diantaranya buku-buku penunjang kegiatan belajar, buku bacaan,  yang bersifat keagamaan, social, dan ilmu pengetahuan.



f.        Ruang komputer
Terdapat ruang computer dengan jumlah computer sebanyak 20 unit, namun yang masih dapat dioperasikan hanya tinggal 7 unit, sedangkan yang lainnya rusak, selain itu juga terdapat terdapat fasilitas internet di ruang lab multimedia yang seluruh unit computer bisa di operasikan.
g.       Mushola
SMA Negeri 2 Sungai Penuh juga mempunyai musholah yang terletak di antara ruang osis dan kelas XI ipa 2 dan bernama Mushola Nurul Haq.
h.       UKS
Ruang UKS SMA Negeri 2 Sungai Penuh terletak diantara labor multi media dan ruang BK, dengan didalamnya mempunyai fasilitas berupa tempat tidur lengkap dengan bantal dan selimutnya,  dan ada juga obat-obatan yang tersusun rapi didalam kotak P3K.
i.         Media
Media pembelajaran yang terdapat di SMA Negeri 2 Sungai Penuh ini berupa beberapa unit Infokus,  alat praga IPA, alat Praga Matematika, alat Praga IPS serta media-media lain yang mempermudah guru dalam penyampaian materi pembelajaran.
j.        Fasilitas olahraga
Fasilitas olahraga yang dimiliki antara lain : 1 lapangan Basket,1 lapangan volley, seperangkat peralatan permainan volly, net bola volly, dan seperangkat alat permainan basket. Dan  lapangan tersebut terletak di tengah  sekolah dan biasa juga digunakan untuk upacara bendera bersama setiap hari senin.

k.      Parkiran
Parkiran untuk kendaraan bermotor milik guru berada di depan ruang Labor Bahasa, sementara untuk pakiran sepeda siswa-siswi SMA Negeri 2 Sungai Penuh mereka menggunakan halaman  sekolah sebagai tempat pakir sepeda motor  mereka.
l.         Ruang Tata Usaha
Ruang tata usaha terletak di sebelah ruang kepala sekolah. ruang TU ini dilengkapi dengan fasilitas berupa beberapa komputer dan Printer dalam kondisi yang siap pakai sehingga memudahkan petugas TU dalam melaksanakan Kerjanya.

m.     Rumah Penjaga sekolah
Rumah penjaga sekolah terletak dibelakang  labor fisika.



2.      Kondisi Non –Fisik Sekolah
Kondisi non fisik SMA Negeri 2 Sungai Penuh dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.       Nama Sekolah        :  SMA Negeri 2 Sungai Penuh
b.      Alamat                   :  Jl . RE Martadinata
c.       Telpon                    :  (0748)21390
d.      Kode Pos               :  37114

B.     Perumusan  Program  Dan  Rancangan  Kegiatan Program PPL
Dalam kegiatan PPL di SMA Negeri 2 Sungai Penuh, Kerinci, Jambi ada beberapa kegiatan rancangan dan kegiatan PPL yang akan dilaksanakan, yaitu:
a.       Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sebelum melakukan praktek mengajar, penulis membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi yang akan di ajarkan.





BAB II
PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN ANALISIS HASIL

A.     PERENCANAAN
1.      Praktek pengalaman lapangan terbimbing
Praktek mengajar terbimbing adalah praktek mengajar yang mengupayakan agar mahasiswa  calon guru dapat menerapkan kemampuan mengajar secara utuh dan terintegrasi dengan  bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing.

Pelaksanaan praktek mengajar terbimbing di SMA Negeri 2 Sungai Penuh dilaksanakan oleh penulis dalam kelas, sesuai dengan jadwal mengajar sesuai dengan materi yang akan diajarkan, dengan dibimbing oleh Guru Pamong yang bersangkutan. Satu kelas dipegang oleh penulis  yang langsung didampingi oleh Guru Pamong yang bersangkutan, yang dimana Guru Pamong tersebut membantu memanajemen kelas selama penulis mengajar .

Adapun perencanaan yang disiapkan oleh praktikan adalah sebagai berikut:
a.       Merancang pelaksanaan pengajaraan sesuai dengan satuan pembelajaran, standar kompetensi dan kompetensi dasar.
b.      Merancang dan mempersiapkan media sebagai bahan dan alat bantu dalam proses pembelajaran.
c.       Memilih metode yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan disampaikan serta kondisi perkembangan perserta didik.
Sebelum melakukan kegiatan ini, penulis terlebih dahulu mengkonsultasikan baik mata pelajaran maupun materi yang  akan disampaikan, serta  media atau metode yang akan digunakan. Selain mengkonsultasikan beberapa hal tersebut penulis juga menggali informasi keadaan kelas serta perkembangan perserta didik. Setelah melewati fase – fase tersebut maka penulis siap mengajar di dalam kelas dengan didampingi guru pamong yang bersangkutan.
2.      Praktek pengalaman lapangan mandiri
Setelah dirasa cukup dalam praktek terbimbing maka penulis diwajibkan untuk praktek mandiri. Guru Pamong memberikan tugas kepada penulis dan plaksanaan juga diserahkan sepenuhnya.

Adapun perencanaan yang disiapkan oleh penulis sama dengan perencanaan diwaktu praktek terbimbing, adalah sebagai berikut :
a.       Merancang pelaksanaan pengajaraan sesuai dengan satuan pembelajaran, standar kompetensi dan kompetensi dasar.
b.      Merancang dan mempersiapkan media sebagai bahan dan alat bantu dalam proses pembelajaran.
c.       Memilih metode yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan disampaikan serta kondisi perkembangan perserta didik.
Setelah persiapan selesai praktikan tetap mengkonsultasikan dengan guru pamong yang bersangkutan. Akan tetapi perbedaan dalam pelaksanaannya ialah penulis tidak lagi didampingi oleh guru pamong, melainkan penulis melaksanakan pengajaran sendiri di dalam kelas. Dengan kata lain penulis benar-benar dilatih memanajemen kelas dan menyampaikan materi sendiri sesuai dengan kemampuannya tampa adanya pendamping di dalam kelas.

3.      Ujian praktek pengalaman lapangan
Kegiatan praktek pengalaman lapangan di SMA Negeri 2 Sungai Penuh diakhiri dengan ujian praktek mengajar. Ujian praktek mengajar adalah untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam mengajar. Ujian praktek mengajar dimaksudkan untuk mengukur kemampuan mengajar dan menetapkan keberhasilan mahasiswa dalam melaksanakan latihan mengajar.
Adapun ujian praktik lapangan dilaksanakan sebanyak lima kali, dengan pengalaman selama praktik terbimbing maupun mandiri penulis mempersiapkan secara optimal dan maksimal baik dari persiapan maupun pada saat pelaksanaan pengajaran. Dalam ujian penulis dinilai langsung oleh guru pamong bersama dengan dosen pembibing lapangan selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek yang dinilai dari penulis adalah kejelasan RPP, proses selama PBM, kompetensi kpribadian dan kompetensi social.

B.                                                                                                                                  PELAKSANAAN
Dalam kegiatan PPL di SMA Negeri 2 Sungai Penuh ada beberapa kegiatan PPL yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
1.      Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sebelum melakukan praktek mengajar, penulis membuat RPP sesuai dengan kompetensi yang akan diajarkan. Dalam hal ini penulis sebelum mengajar mengkonsultasikan materi pembelajaran dengan guru kelas yang bersangkutan.
2.      Praktek Mengajar
Pratik mengajar dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
a.       Praktek pengalaman lapangan terbimbing
 Praktek mengajar terbimbing adalah praktek mengajar yang mengupayakan agar mahasiswa  calon guru dapat menerapkan kemampuan mengajar secara utuh dan terintegrasi dengan  bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing.

Pelaksanaan praktek mengajar terbimbing di SMA Negeri 2 Sungai Penuh dilaksanakan oleh penulis di dalam kelas, sesuai dengan jadwal mengajar sesuai dengan materi yang akan diajarkan, dengan dibimbing oleh guru pamong yang bersangkutan. Satu kelas dipegang oleh penulis  yang langsung didampingi oleh guru pamong yang bersangkutan, yang dimana guru pamong tersebut membantu memanajemen kelas selama penulis mengajar .
b.      Praktek pengalaman lapangan mandiri
Praktek mengajar mandiri adalah praktek mengajar yang dilakukan oleh praktikan tampa ada pendampingan oleh guru pamong. Hal ini dilakukan dengan maksud agar penulis belajar bagaimana memanajemen kelas dengan baik sehingga apa yang disampaikaan ketika proses belajar mengajar berlangsung dapat diterima oleh siswa.
c.       Jadwal dan Materi pembelajaran Praktik Mengajar Yang Dilaksanakan Oleh Praktekan selama Mengikuti kegiatan PPL di SD Negeri Condongcatur adalah sebagai berikut :

Pertemuan Ke
Hari/Tanggal
Kelas
Mata Pelajaran/ Materi
1 Terbimbing
Senin /27-09-2010
Xb

2 Mandiri
Kamis /30-09-2010
Xb

3Mandiri
Rabu / 13-10-2010
Xa

4 Terbimbing
Kamis/14-10-2010
Xb

5 Mandiri
Rabu /20-10-2010
Xa

6 Mandiri
Kamis/21-10-2010
Xb

7 Mandiri
Rabu /27- 10-2010
Xa

8 Terbimbing
Kamis /28-10-2010
Xb

9 Mandiri
Rabu/04-11-2010
Xa

10 Mandiri
Kamis /05-11-2010
Xb

11 Mandiri
Rabu /11-11-2010
Xa

12 Terbimbing
Kamis/12-11-2010
Xb

13 Mandiri
Rabu /18-11-2010
Xa

14 Mandiri
Kamis /19-11-2010
Xb

15 Mandiri
Rabu /25-11-2010
Xa

16 Mandiri
Kamis /26-11-2010
Xb

17 Mandiri
Rabu /02-12-2010
Xa


Selain mengajar di kelas Xa dan Xb, penulis juga sering mengajar di kelas XI dan XII baik pelajaran yang penulis bidangi maupun pelajaran yang lain.
3.      Ujian Pratik Mengajar
Kegiatan praktek pengalaman lapangan di SMA Negeri 2 Sungai Penuh diakhiri dengan ujian praktek mengajar. Ujian praktek mengajar adalah untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam mengajar. Ujian praktek mengajar dimaksudkan untuk mengukur kemampuan mengajar dan menetapkan keberhasilan mahasiswa dalam melaksanakan latihan mengajar.
Adapun pelaksanaan ujian praktek yang telah penulis laksanakan adalah:
1)      Hari/tanggal            : senin
Kelas/semester       : Xb / ganjil
Mata Pelajaran       : Bahasa Inggris
Materi Pokok:        : Noun Phrase
Alokasi Waktu       : 2x 45menit
2)      Hari/tanggal            : Kamis
Kelas/semester       : Xb / ganjil
Mata Pelajaran       : Bahasa Inggris
Materi Pokok         : Past Tense
Alokasi Waktu       : 2x 45menit

3)      Hari/tanggal            : Kamis
Kelas/semester       : Xb / ganjil
Mata Pelajaran       : Bahasa Inggris
Materi Pokok         : Past Continouse Tense
Alokasi Waktu       : 2x 45menit
4)      Hari/tanggal            : Kamis
Kelas/semester       : Xb / ganjil
Mata Pelajaran       : Bahasa Inggris
Materi Pokok         : Procedure Text
Alokasi Waktu       : 2x 45menit

C.     ANALISIS HASIL
Rencana-rencana yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan dengan baik. Sehingga kegiatan praktikan pengalaman lapangan  (PPL) dapat dianalisis sebagai berikut :
1.      Pengalaman PPL
Ada berbagai hal yang dapat menambah pengalaman selama melaksanakan PPL di SMA Negeri 2 Sungai Penuh, yakni adalah sebagai berikut:
a.       Pelaksanaan tahap pengenalan lapangan memberikan banyak pengetahuan dan pemahaman pada penulis serta memberikan wawasan terhadap berbagai karakteristik komponen pendidikan, iklim, nilai dan norma yang ada di sekolah menengah atas.
b.      Pelaksanaan praktek mengajar terbimbing telah banyak memberikan pengalaman terhadap penulis dalam kaitanya dengan tugas guru sebagai pengajar. Pengalaman tersebut meliputi pengkajian GBPP, pengembangan materi pembelajaran, penyusunan persiapan mengajar   (RPP), pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, memberi bimbingan kepada siswa serta melakukan evaluasi.
c.       Pelaksanaan praktek mengajar mandiri, pengalaman ini berkaitan tentang bagaimana melaksanakan tugas guru disekolah menengah atas dalam mengajar dan mendidik siswa dari awal masuk sampai jam sekolah selesai. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada penulis untuk seolah-olah menjadi guru yang sebenarnya.
d.      Praktek persekolahan, dengan diadakan praktek persekolahan penulis dapat mengenal, memiliki kemampuan dan keterampilan dalam melakukan kegiatan-kegiatan sekolah selain proses belajar mengajar yang diadakan di dalam kelas.


2.      Hambatan yang dialami
Selain mendapat pengalaman dan pengetahuan selama PPL penulis juga mengalami hambatan disaat melaksanakan PPL, adapun hambatan yang dialami adalah sebagai berikut :
a.       Dalam menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan media yang dipakai saat pelaksanaan praktek mengajar.
b.      Memanajemen kelas, pada saat pembelajaran siswa-siswi kurang memperhatikan instruksi dan menyebabkan penguasaan kelas agak sulit diatur.
Dari beberapa hambatan yang penulis utarakan diatas, usaha yang dilakukan oleh penulis untuk mengatasi hambatan tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Penulis meminta materi pembelajaran 1 atau 2 hari sebelum penulis melaksanakan pembelajaran dikelas dan sekaligus mengkonsultasikan kepada guru pamong bersangkutan.
b.      Penulis berusaha mencari metode mengajar yang lebih menarik dan menyiapkan media yang bisa melibatkan siswa dalam proses pembelajaran seperti media infokus dan laptop.






BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Berdasarkan praktek mengajar yang telah penulis lakukan dan juga data-data yang diperoleh selama melaksanakan PPL di SMA Negeri 2 Sungai Penuh, maka dapat disimpulkan hasil yang diperoleh selama melaksanakan PPL  antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Praktek pengalaman lapangan, khususnya praktek mengajar merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bermanfaat bagi penulis sebagai calon guru.
2.      Penguasaan materi bagi seorang guru bidang studi belum cukup untuk menentukan keberhasilan dalam mengajar, tanpa didukung cara atau metode penyampaiaan yang sesuai.
3.      Mahasiswa yang melakukan praktek pengalaman lapangan dituntut agar memiliki kompetensi yang harus dimiliki, yaitu : Kompetensi pendagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial.
4.      Semakin banyak praktek yang berhadapan langsung dengan siswa semakin banyak pengalaman yang didapat.
B.     Saran
1.      Pihak Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan STKIP-M
a.       Pihak STKIP-M diharapkan dapat memberikan pembekalan yang cukup sebelum mahasiswa calon guru melaksanakan praktek pengalaman lapangan. Disisi lain bimbingan dari pihak STKIP-M  hendaknya juga dilakukan di sekolah yang dimana praktekan mengajar, dengan kata lain Dosen Pembimbing melakukan pengawasan secara langsung dilapangan, sehingga mahasiswa mendapatkan masukan (kritik dan saran) tidak hanya dari guru pamong dan pihak sekolah saja, melainkan dari dosen pembimbing juga.
b.      Keberhasilan pelaksanaan PPL merupakan tanggung jawab bersama antara mahasiswa praktekan, sekolah tempat praktek, maupun pihak STKIP-M dan semua pihak yang bersangkutan. Oleh karna itu dalam upaya meningkatkan kualitas PPL ini sebaiknya diperlukan adanya kerjasama yang baik antara semua komponen yang yang terlibat didalamnya. Hal ini dimaksudkan agar adanya peningkatan peran dan fungsi masing-masing komponen.

2.      Pihak Sekolah
a.       Dalam upaya meningkatkan kualitas PPL, kiranya perlu adanya suatu rancangan program untuk mengoptimalkan fungsi dan peran mahasiswa praktekan bagi pengembangan dan fungsi masing-masing komponen.
b.      Fasilitas yang ada disekolah, misalnya : perpustakaan, ruang UKS, dan fasilitas pembelajaran  hendaknya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh siswa sekolah sehingga dapat meningkatkan kualitas siswa.
3.      Mahasiswa PPL
a.       Perlu penguasaan materi, mata pelajaran tertentu, misalnya bahasa inggris sehingga dalam praktek mengajar dapat berjalan dengan baik.
b.      Menjaga nama baik almamater dan memiliki kepribadian yang baik dan luhur.
c.       Bersikap disiplin dan tetap mengikuti kegiatan PPL, sampai penarikan kembali mahasiswa PPL.